Hari Ini:

Kamis 29 Jun 2017

SMS/Whatsapp:

0812-1025-1988

Email:

buku@habibieafsyah.com

Testimoni

Pembayaran Melalui

Rek : 0354076272
An. Habibie Afsyah
Rek : 1020006703943
An. Habibie Afsyah

Beli Sekarang !!


 

Sinopsis Buku “Sekarang Atau Keburu Mati”

Habibie adalah sosok yang mempercayai batas terjauh pencapaian adalah langit. Limit usianya yang hanya 25 tahun menurut matematika kedokteran modern. Dan dia sudah melampaui itu. Kini dia berada dalam fase bonus usia. Dan nikmat apa yang dapat Anda syukuri melebihi kenyataan bahwa… oke deh, kamu saya kasih bonus umur! Lantas bakal Anda isi dengan kegiatan apa ketika Anda berada di fase bonus itu sementara Anda tidak pernah tahu seberapa panjang Anda diperpanjang umurnya. Mungkin hanya sepanjang waktu dari terbit matahari hingga terbenamnya, setengah tahun, atau malah sekian belas tahun?

Bagi mereka yang umurnya sudah bervonis—seperti Habibie Afsyah ini—tidak ada istilah sisa umur, atau malah seumur hidupnya adalah sisa umur itu sendiri. Kisah di dalam buku ini mempertegas prinsip hidup Habibie yang sekarang. Dan ini melebihi sosok Habibie Afsyah yang dicitrakan media massa.

10178026_10153417749155954_8338881146917135798_n

Sebagai seorang pemuda inspiratif, Habibie Afsyah yang namanya mendadak jadi sorotan publik setelah dikenal sebagai internet marketer dengan pendapatan 200 juta dalam tempo amat singkat, adalah sosok yang takhabis dibicarakan. Kampus-kampus, sekian banyak komunitas, panggung seminar dan talkshow adalah penjelajahan Habibie.

“Sesungguhnya pemberian penghargaan adalah peluit agar aku bersiap untuk berbuat hal baru lagi yang lebih baik dari sebelumnya. Bertambahnya penghargaan berarti bertambah pula tanggung jawabku,” kata Habibie suatu ketika.

Piagam, piala, liputan media, dan sederet award ditambah puja-puji, apakah dia gembira betul menerimanya? Gembira sih iya.

“Tapi aku tak bisa loncat kegirangan. Bukan semata-mata karena kakiku tak cukup kuat untuk menjejak tanah tapi karena aku sadar penghargaan itu datang kemudian. Bukan diimpikan di depan. Bukan juga ditargetkan sejak jauh-jauh hari,” katanya.

Habibie mencintai kegiatan berbagi inspirasi di depan teman-teman mahasiswa, anak-anak muda, atau siapa pun. Itu semua dia lakukan tanpa berhitung jelimet soal bayaran. Bagaimana pun juga dia telah memutuskan untuk tidak mengomersialkan ilmu yang dia punya. Sebab, pengalaman, ilmu, dan pengetahuan yang dari hari ke hari mengendap di otaknya sejatinya bukan hak dia 100%. Bukan juga hasil proses yang dia kerjakan sendiri. Ada banyak orang yang telah menambahkan ilmu itu ke dalam dirinya. Lewat diskusi, obrolan, atau tulisan orang-orang cerdas yang kubaca di internet Habibie menjadi berpengetahuan. “Kalau sudah begitu, untuk apa aku komersialkan ilmu itu?”

Sorak-sorai dan pujian kekaguman masyarakat melalui media massa terhadap sosok Habibie Afsyah ternyata bukanlah cerita utuh mengenai si internet marketer ini. Ia pernah jatuh, pernah kehilangan uang ratusan juta, terpuruk—di dalam bisnis internet maupun dalam percintaan—tapi tetaplah dia tidak kehilangan impian. Sebab hanya langitlah yang membatasi kursi rodanya bergulir.

Dan, ketika kita menyadari sosok aktif inspiratif ini kini hanya mampu menggerakkan ruas tulang di satu jarinya, kekaguman dan rasa hormat kita menjadi berlipat. Kita makin yakin, jangan percaya dengan limit di depan mata dan limit yang didengar telinga. Sebab sejatinya hanya langitlah awal limit kita. Bukan puncak gunung bahkan bukan pula awan di atasnya. Impian bukan sebuah magic. Ia butuh keringat, perjuangan, dan kerja keras. Begitu banyak impian kita pada awalnya tampak mustahil, dan kemudian ketika kita menggerakkan niat mereka segera menjadi datang sebagai kenyataan. Dan cara terbaik untuk menjadikan mimpi sebuah kenyataan adalah dengan bangun dan berusaha! Habibie yakin sekali soal itu. Kematian saja bisa salah perhitungan, jadi kenapa kita membatasi mimpi kita karena keterbatasan fisik?